My Day

Monday, August 13, 2007

August,12 2007/ Tangerang
Kehidupanku di Titik Nol Sebagai Anak Manusia

Saat dalam rahim bunda, garis dan nafas kehidupanku telah diberikan Tuhan. Memasuki Nol bulan kehidupanku sebagai anak manusia pun dimulai. Beranjak dari titik nol, aku pun memasuki angka 1 dalam kehidupanku. Aku pun mulai merasakan banyak hal seperti tumbuh kembang, nikmati kasih sayang orangtua, lingkungan tempatku dibesarkan dan saudara-saudaraku. Tak hanya itu, aku pun mulai mempelajari deretan huruh dan angka dan pengetahuan yang mulai kudapati dari mana saja.Titik nol hingga akhirnya aku memasuki babak baru kehidupanku sebagai anak manusia yang beranjak dewasa tepat saat usiaku memasuki titik 22, 5 tahun.
Sebuah angka yang cukup muda dan penuh dengan energi bagi anak manusia. Sebuah masa peralihan dari remaja menuju masa dewasa. Berbagai peristiwa kehidupan mulai kujalani dan kurasakan. Berhasilnya aku menyelesaikan pendidikan akademis di perguruan tinggi bahkan kehidupan baru dalam dunia kerja yang menuntut rutinitas, tanggung jawab profesionalitas hingga kehidupan percintaanku sebagai sosok wanita dewasa. Pekerjaan yang kugeluti sebagai seorang jurnalis, selalu bersinggungan dengan idealisme, norma, social budaya, humanisme dan sejumlah aliran lainnya yang membuat pusing kepalaku.
Ha..ha…3x…hidupku yang complicated. Beranjak dari usia belia menuju masa dewasa, perlahan namun pasti mulai kutapai usiaku yang kini bernajak menuju 27 tahun kehidupanku di dunia. Dunia pekerjaan, dunia percintaanku pun berwarna-warni. Rasa kekagumanku, simpatiku, lalu muncullah rasa cinta kasih terhadap laki-laki yang masuk dalam babak kehidupanku sebagai wanita dewasa. Pekerjaanku pun kurasa tak bermasalah. Perlahan namun pasti pekerjaanku cukup menjanjikan. Ya…ya…bekerja sebagai seorang jurnalis, penulis dan penanggung jawab rubric disebuah majalah bagiku yang belum genap berusia 27 cukup menyenangkan dan memberiku sebuah prestise.
Aku pun dengan perlahan namun pasti mulai mencari nilai-nilai Ketuhanan ( religi) dalam keseharianku. Hingga akhirnya kuputuskan untuk hijrah dan mengenakan hijab dan busana muslim neutupi tubuhku. Yaa…raga yang mudah rapuh, pemberian Dia..Yang Mencipta Jagad dunia ini.Entah kenapa…Apakah ini awal dari rasa kesombonganku sebagai makhluk lemah…dan hati yang dipenuhi dengan ambisi…membuatku tak lagi berpikir matang akan keputusan singkat resign dari kantor tempatku berkarya. Yap…sekali lagi aku terbujuk rayuan dan iming-iming teman untuk bersama mereka membuat sebuah media baru.
Tuhan…iam so stupid. Kebodohan, emosional menghancurkan segalanya. Karirku pun ‘mati suri’. Kehidupan asmaraku pun kandas. Orang yang kusayangi pun berkali-kali menghianatiku…kebohongan, kata-kata rayuan bak pujangga dan kemunafikan datang menerpa kehidupan asmaraku. Aku menangis…ya…kini aku hanya dapat menangisi semua yang tlah terjadi.Tak tahan Lagi kupendam masalah ini, refleks…jari jemariku pun memutar sederetan angka dan diujung pesawat telepon akhirnya kudengar suaranya. Yap…suara sahabat yang tlah lama hilang. Berceritaku pun pada sahabat…
“Sahabat, iam so stupid…tangisku memecah keheningan.”” Hei…ada apa ini?, ceritalah padaku apa yang menjadi beban perasaanmu,” imbuh sahabat. Berceritalah aku tentang serangkaian peristiwa dalam kehidupanku. Aku merasa tertipu…jeritku pada sahabat.Kini aku terhempas ke titik NOL, titik nol dalam karir dan asmara. “Mmmmh…sahabat pun bergumam”. Sahabatku pun berujar, “ Porsi manusia Cuma bisa berikhtiar, selama kita tidak berhenti belajar kenapa kau tidak mencoba lagi?.Kamu bukanlah orang yang gagal, semua kembali lagi pada diri kita dan kita pasti bisa lebih bersyukur memiliki banyak pengalaman dan harus tetap optimis”. Yah…Titik Nol bukanlah sebuah kegagalan…justru dari Nol lah..semuanya berawal…baik atau buruk semua berpulang pada diriku sendiri…

0 Comments:

Post a Comment

<< Home